Blog Biology

Jumat, 30 Maret 2012

EVALUASI HASIL BELAJAR MENGAJAR “ TEKNIK NON-TES”

MAKALAH
EVALUASI HASIL BELAJAR MENGAJAR

“ TEKNIK NON-TES”





Disusun Oleh:
Kelompok 1
1.    Nur Saifuddin            (0905015045)
2.    Listra Timau            (0905015046)
3.    Edwar Edi Hardadi        (0905015047)
4.    Lilik Fitrianasari        (0905015048)
5.    Dewi Anggraini        (0905015052)



PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2011



KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan yang maha esa, yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya serta memberikan kekuatan dan kemampuan kepada penulis dalam menyusun makalah dengan judul “tehnik non-tes” ini sehingga penulis dapat menyelesaikan tepat pada waktunya.
Tidak menutup kemungkinan bahwa penulisan makalah ini banyak terdapat kekurangan yang mendasar disebabkan keterbatasan ilmu pengetahuan penulis, dimana penulis telah berusaha semaksimal mungkin dengan bekal ilmu pengetahuan yang penulis miliki untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Di dalam penulisan makalah ini penulis menyadari bahwa tanpa adanya bantuan dan bimbingan yang mendukung dari berbagai pihak baik itu berupa saran-saran dan masukan, maka penulis akan banyak mengalami kesulitan dan hambatan yang cukup berarti. Bantuan dan bimbingan tersebut merupakan faktor pendukung yang sangat penting dan bermanfaat bagi penulis.
Akhirnya penuslis berharap, semoga makalah ini bermanfaat khususnya bagi pembaca sekalian dan lebih lagi bagi masyarakat umumnya.


                        Samarinda, 09 November 2011
                               
                                                                                Penulis


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………...    i
DAFTAR ISI…………………………………………………………..........    ii
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar belakang……………………………………………………............    1
2. Rumusan masalah……………………………………………….….........    2
3. Tujuan…………………………………………………………..…..........    2
BAB II PEMBAHASAN
A. Tehnik non-tes………………………………………………..…….........    3
1. Pengamatan (observation)…………………………….........................    3
2. Wawancara ( interview )...........................................................    ...........    6
3. Angket ( qustionnaire )..........................................................................    7
4. Pemeriksaan dokumen..........................................................................    8
5. Cara-cara lain yang dapat dilakukan dalam teknik non-tes..................    9
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan…………………………………………………...................    14
B..Saran………………………………………………………......................    14
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………    15




BAB I
PENDAHULUAN

1.    Latar belakang
Telah dikemukakan bahwa kegiatan mengukur atau melakukan pengukuran adalah merupakan kegiatan yang paling umum dilakukan dan merupakan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasill belajar.
Merupakan suatu kenyataan bahwa manusia dalam hidupnya berbeda antara individu satu dengan individu yang lainya. Adanya perbedaan individu tersebut tentu akan mmenimbulkan kesulitan bagi kitta seorang guru dalam melakukan penilaian karena daya serap masing-masing anak berbeda.
Sebgai mana yang kita ketahui bahwa dalam kegiatan evaluasi pendidikann sasarannya evaluasi adalah prestasi belajar, maka subyek evaluasi adalah guru itu sendiri yang mengasuh satu mata pelajaran tertentu. Evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara berkesinambungan agar para evaluator dapat memperoleh kepastian dan kemantapan dalam menentukan langkah-langkah atau merumuskan kebijakan-kebijakan yang perlu diambil untuk masa-masa selanjutnya, agar tujuan pengajaran sebagaimana telah dirumuskan pada tujuan khusus yang harus dicapai. Seiring dengan adanya perbedaan individu, maka perlu diciptakan alat untuk mendiaknosis atau mengukur kemampuan individu, dan alat tersebut lazim disebut dengan tes dan ada pula yang disebut dengan non tes. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai tahnik non tes secara lengkapnya.





2.    Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini yaitu sebagai berikut :
a.    Bagaimana pelaksanaan tehnik non-tes dalam kegiatan evaluasi untuk penilaian hasil belajar peserta didik?


3.    Tujuan
Tujuan pembuatan makalah ini adalah :
a.    Untuk mengetahui bagaimana pelaksanann tehnik non-tes dalam kegiatan  evaluasi untuk penilaian hasil belajar peserta didik .





BAB II
PEMBAHASAN

A.    Teknik non-tes
Mengukur adalah kegiatan yang paling umu dilakukan dan tindakan yang mengawali kegiatan evaluasi dalam penilaian hasil belajar siswa. Pernyataan ini tidaklah harus diartikan bahwa tehnik tes adalah satu-satunya tehnik untuk melakukan evaluasi hasil belajar, sebab masih ada tahnik lainnya yang dapat dipergunakan, yaitu tehnik non-tes.
Tehnik evaluasi disebut juga instrumen atau alat pengumpul data hasil belajar, tidak hanya tertuang dalam bentuk tes dengan berbagai bentuk atau variasinya, akan tetapi masih ada teknik lainya yang bisa digunakan, yaitu teknik non tes.Teknik non tes pada umumnya memegang peranan penting dalam rangka mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah sikap (affective domain) dan ranah ketrampilan (Psychomotoric domain), sedangkan teknik tes lebih banyak digunakan untuk mengevaluasi hasil belajar peserta didik dari segi ranah proses berfikirnya (cognitif domain).
Dalam tehnik non-tes ini penilaian dilakukan tanpa menguji peserta didik, melainkan dengan pengapatan secara sistematis (observation), melakukan wawancara (interview), menyebarkan angket (questionnaire), dan memeriksa atau meneliti dokumen-dokumen (documentary analysis).

1.    Pengamatan (observation)
Secara umum, pengertian observasi adalah cara menghimpuan bahan-bahan keterangan (=data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sadang dijadikan sasaran pengamatan.
Observasi sebagai alat evaluasi banyak digunakan untuk menilai tingkah laku individu atau proses terjadinya suatu kegiatan yang dapat Ddiamati baik dalam situasi yang sebenarnya maupun dalam situasi buatan. Observasi dapat mengukur atau menilai hasil dan proses belajar, misalnya tingkah laku peserta didik.
Observasi dapat dilakukan baik secara partisipatif (participant observation) maupun nonpartisipatif (nonparticipant observation). Observasi dapat pula berupa atau berbentuk observasi yang dilakukan dalam situasi wajar (nonexperimental observation). Pada observasi berpartisipasi obser (dalam hal ini pendidik yang sedang melakukan kegiatan penilaian seperti :guru dosen dan sebagainya) melibatkan diri di tengah-tengah kegiatan observee (dalam hal inni peserta didik yang sedang diamati tingkah lakunya seperti murid, siswa, mahasiwa, dan sebagainya) sedangkan pada observasi nonpartisipasi, evaluator barada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka.
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik non tes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan melakukan pemeriksaan dokumen-dokumen, misalnya dokumen yang memuat informasi mengenai daftar pribadi (personality infentory); seperti kapan peserta didik dilahirkan, agama yang dianut dan lain-lain, dan juga mengenai riwayat hidup (auto biografi) seperti: apakah ia pernah tinggal kelas, apakah ia pernah meraih atau mendapatkan penghargaan dan masih banyak lagi yang lainya.
Informasi-informasi tersebut dapat diperoleh melalui sebuah dokumen berbentuk formulir atau blanko isian yang harus diisi pada saat peserta didik untuk pertama kali diterima sebagai siswa di sekolah yang bersangkutan.
Berbagai informasi, baik mengenai peserta didik orang tua dan lingkunganya pada saat tertentu akan sangat dibutuhkan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya.

Melalui analisis dokumen data pribadi dapat memberikan sumber keterangan untuk mengadakan penilaian tentang data pribadi siswa, memberikan bimbingan belajar secara optimal dan mengarahkan pilihan karir jabatan dimasa mendatang.
Adapun segi kebaikan uang dimiliki oleh observasi itu ialah, bahwa :
a.    Data observasi itu diperoleh secara langsung dilapangan, yakni dengan jalan melihat dan mengamati kegiatan atau ekspresi peserta didik didalam melakukan sesuatu sehingga dengan demikian data tersebut dapat lebih bersifat obyektif dalam melukiskan aspek-aspek kepribadian peserta didik menurut keadaan yang senyatanya.
b.    Data hasil observasi dapat mencangkup berbagai aspek kepribadian masing-masing individu  peserta didik, dengan demikian maka didalam pengelolahannya tidak berat sebelah atau hanya menekan pada suatu atau salah satu segi saja dari kecakapan atau prestasi belajar dari mereka.

Adapun kekurangan dari observasi ini adalah :
a.    Observasi sebagai salah satu alat evaluassi hasil belajar tidak selalu dapat dilakukan dengan baik dan benar oleh para pengajar. Guru yang tidak atau kurang memiliki kecakapan atau keterampilan dalam melakukan observasi , maka hasil observasinya menjadi kurang diyakini kebenarannya. Untuk menghasilkan data observasi yang baik, seorang guru harus mempu mebedakan antara; apa yang tersirat dan apa yang tersurat.
b.    Kepribadian (personality) dari observer atau evaluator juga acapkali mewarnai atau menyelinap masuk kedalam penilaian yang dilakukan dengan cara observasi. Prasangka-prasangka yang mungkin melekat pada diri observer (evaluator) dapat mengakibatkan sulit dipisahkan secara tegas mengenai tingkah laku peserta didik yang diamatinya.
c.    Data yang diperolah dari kegiatan observasi umumnya baru dapat mengungkap kulit luarnya saja. Adapun apa-apa yang sesungguhnya terjadi dibalik hasil pengamatan itu belum dapat diungkapkan secara tuntas hanya sengan melakukan observasi sja. Karena itu observasu harus didukung dengan melakukan wawancara.

2.    Wawancara ( interview)
Secara umum yang dimaksud dengan wawancara adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan yang dilaksanakan dengan melakukan tanya jawab lisan secara sepihak, berhadapn muka, dengan arah tujuan yang telah ditentukan.
Ada dua jenis cara wawancara yang dapat dilakukan dalm evaluasi hasil belajar yaitu :
a.    Wawancara terpipmpin  ( guided interview ) yang juga sering dikenal dengan wawancara berstruktur ( sruktured interview ) atau wawancara sistematis ( sistematic interview ). Dalam wawancara terpimpin evaluator melakukan tanyajawab lisan dengan puhak-pihal yang diperlukan; misalnya wawancara dengan peserta didik atau orang tua murid dalam rangka menghimpun bahan-bahan keterangan untuk penilaian peserta didiknya. Wawancara ini sudah dipersiapkan secara matang yaitu dengan berpegang pada penduan wawancara ( intrview guided ) yang butur-butir itemnya terdiri dari hal-hal  yang dipandang perlu guna mengungkapkan kebiasaan hidup sehari-hari peserta didik, hal-hal yang disukai dan tidak disukai, keinginan atau cita-citanya, cara belajarnya, cara menggunakan waktu luangnya, dan sebagainya.
b.    Wawancara tidak terpimpin ( un-guided interview ) yang sering dikanal dengan istilah wawancara sederhana ( simple interview )atau wawancara tidak sistematis ( non-sistematic interview ), atau wawancara bebas. Dalm wawancara bebas pewawancara mengajukan pertanyaan kepada peserta didik atau orang tua murid tanpa dikendalikan oleh pedoman teretntu. Mereka dengan bebas mengemukakan jawaban mereka. Hanya seja pada saat menganalisis dan menarik kesimpulan hasil wawancara bebas ini pewawancara akan dihadapkan pada kesulitan-kesulitan, terutama apabila jawaban mereka beraneka ragam. Mengingat bahwa daya ingat manusia itu dibatasi oleh ruang dan waktu , maka sebaiknya hasil wawancara itu dicatat seketika.
Kelebihan yang dimiliki oleh wawancara adalah:
•    wawancara sebagai evaluator (dalam hal ini guru dosen dll) dapat melakukan kontak langsung dengan peserta didik yang akan dinilai sehingga dapat diperoleh hasil penilaian yang lebih lengkap dan dalam.
•    Dengan melakukan wawancara, peserta didik dapat mengeluarkan isi hatinya secara bebas.
•    Melalui wawancara data dapat diperoleh baik dalam bentuk kualitatif maupun kuantitatif.
•     pertanyaan-pertanyaan kurang jelas dapat diulang dan dijelaskan lagi dan sebaliknya jawaban-jawaban yang belum jelas dapat diminta lagi dengan lebih terarah dan lebih bermakna asalkan kita mampu mempengaruhi atau mengarahkan jawaban peserta didik.
•    Wawancara juga dapat dibantu dengan alat bantu berupa tape recorder sehingga jawaban atas pertanyaan-pertanyaan dapat dicatat secara lebih lengkap. Penggunaan pedoman wawancara dan alat bantu perekam suara itu akan sangat membantu kepada wawancara dalam mengategorikan dan menganilisis jawaban-jawaban yang diberikan oleh peserta didik atau orang tua peserta didik dan pada akhirnya dapat ditarik kesimpulannya.

3.    Angket ( qustionnaire )
Angket (qustionnaire) juga dapat digunakan sebagai alat bantu dalam rangka penilaian hasil belajar. Berbeda dengan wawancara dimana penilai atau evaluator berhadapan secara langsung dengan peserta didik, tetapi dengan menggunakan angket, pengumpulan data sebagai bahan penilaian hasil belajar jauh lebih praktis menghemat waktu dan tenaga.
Angket dapat diberikan langsung kepada peserta didik, dapat pula langsung diberikan kepada orang tua mereka pada umumnya tujuan penggunaan angket atau quistioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka. Disamping itu juga dimaksudkan untuk memperoleh data sebagai bahan dalam menyusun kurikulum dan program pembelajaran.
Qustionnaire sering digunakan untuk menilai hasil belajar rana afektif. Ia dapat berupa quistioner bentuk pilihan ganda dan dapat pula berbentuk skala sikap. Skala yang mengukur sikap yang sangat terkenal dan sering digunakan untuk mengungkapkan sikap peserta didik adalah skala likert.

4.    Pemerikasaan dokumen (Dokumentari Analisis)
Evaluasi mengenai kemajuan, perkembangan atau keberhasilan peserta didik tanpa menguji (teknis non-test) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemerikasaan terhadap dokumen-dokumen misalnya dokumen yang memuat informasi mengenai riwayat hidup atau autobiografi, agama yang dianut, status dalam keluarga dan sebagainya juga dokumen yang memuat tentang lingkungan non sosial seperti : kondisi bangunan rumah, ruang belajar, sumber kebutuhan air dan lain-lain.
Berbagai informasi mengenai peserta didik atau orang tuanya pada saat tertentu akan sangat dibutuhkan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didiknya. Informasi-informasi seperti telah dikemukakan di atas dapat direkam melalui sebuah dokumen berbentuk formulir atau blangko isian yang harus diisi pada saat peserta didik pertama kalinya diterima sebagai siswa sekolah yang bersangkutan.
Dari uraian tersebut di atas dapatlah dipahami bahwa dalam rangkaian evaluasi hasil belajar peserta didik, evaluasi tidak harus semata-mata dilakukan dengan menggunakan alat-alat berupa test-test hasil belajar. Teknik non-test juga menempati kedudukan yang penting dalam evaluasi hasil belajar, lebih-lebih evluasi yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan peserta didik seperi persepsinya terhadap mata pelajaran tertentu, persepsinya terhadap guru, minat dan bakatnya, tingkah laku atau sikapnya, dan sebagainnya, yang kesemuanya itu tidak dapat di evaluasi sebagai alat pengukurnya.

5.    Cara-cara yang lain yang dapat dilakukan dalam tehnik nontes
Ada beberapa cara selain dari yang telah disebutkan diatas dalam melakukan tehnik non-tes yaitu sebagai berikut :
a.    Sosimetri.
Salah satu cara untuk megetahui kemampuan siswa dalam menyesuaikan dirinya terutama hubungan sosial siswa dengan teman sekelasnya, adalah teknik sosiometri. Dengan teknik sosiometri dapat diketahui posisi seorang siswa dalam hubungan sosialnya dengan siswa lain.
Sosiometri dapat dilakukan dengan cara menugaskan kepada semua siswa dikelas tersebut untuk memilih satu  atau dua temanya  yang paling dekat atau paling akrab. Usahakan dalam memilih kesempatan tersebut agar tidak ada siswa yang berusaha melakukan kompromi untuk saling memilih supaya pilihan tersebut bersifat netral, tidak diatur sebelumnya. Tulislah nama pilihan tersebut pada kertas kecil, kemudian digulung dan dikumpulkan oleh guru, setelah seluruhnya terkumpul guru mengolahnya dengan dua cara. Cara pertama melukiskan  alur-alur pilihan dari setiap siswa dalam bentuk diagram sehingga terlihat hubungan antar siswa berdasarkan pilihanya, dengan hasil pilihan tersebut dinamakan sosiogram.
Dengan demikian, hasil dari sosiometri dapat dijadikan bahan bagi guru dalam mempelajari para siswanya terutama dalam menganalisis sebab-sebab seorang siswa termasuk kedalam siswa yang disenangi, atau sebaliknya menjadi yang terisolasi. Dengan perkataan lain sosiometri dapat digunakan sebagai salah satu alat dalam menemukan kasus-kasus siswa disekolah dilihat dari hubungan sosialnya, dan dijadikan alat untuk melengkapi data mengenai perkembangan siswa.
b.    Teknik evaluasi partisipatif
Teknik-teknik evaluasi partisipatif disini maksudnya adalah bahwa evaluator melibatkan langsung subjek yang di evaluasi perencanaan, pelaksanaan dan penilaian evaluasi.Teknik-teknik tersebut diantaranya:
1.    Teknik respon terperinci ( itemized responsee).
Teknik ini pada umumnya digunakan untuk mengevaluasi proses pembelajaran yang mencakup materi atau bahan pelajaran, proses pembelajaran, keluaran atau dampak pembelajaran. Pengembangan teknik ini menuntut keterlibatan subjek-subjek yang dievaluasi secara sungguh-sungguh. Efektifitas teknik dipengaruhi oleh sejauh mana pengalaman dan kepentingan pihak yang dievaluasi erat hubunganya dengan unsur-unsur program yang sedang dikaji.
Dalam menggunakan teknik respon terperinci evaluator membuat dua kolom dan lajur pada sehelai kertas lebar atau papan tulis. Pada kolom sebelah kiri ditulis sebuah pernyataan yang berbunyi: “hal-hal yang telah dianggap baik tentang materi atau proses pembelajaran yang baru dilakukan. Pada kolom kiri ditulis “hal-hal yang masih perlu dikembangkan dalam materi astau proses pembelajaran yang baru dilakukan.
Untuk mengisi kedua kolom tersebut diatas para subjek yang dievaluasi diminta mengajukan pendapat untuk mengisi kolom sebelah kiri sampai selesai, kemudian dilanjutkan yang sebelah kanan. Dan setiap siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menjawabnya.
Setelah semua kolom terisi, selanjutnya dapat ditanyakan kepada semua subjek tentang jawaban mana yang dianggap prioritas berdasarkan ranking yang disusun sesuai pendapat para subjek.
Keunggulan teknik jawaban terinci adalah :
•    subjek yang kurang berani bicara “dipaksa” oleh situasi untuk mengemukakan pendapat.
•    subjek mengemukakan pendapat secara terbuka, bebas dan tidak khawatir dikritik atau di cemooh orang lain.
•     subjek membiasakan diri untuk memperhatikan dan menghargai pendapat orang lain serta menghubungkan jalan pikiranya dengan jalan pemikiran orang lain.
•     subjek dapat memahami jawaban yang berbeda-beda terhadap pertanyaan sehingga mereka memperoleh berbagai informasi.
•    jawaban disampaikan oleh subjek secara singkat, sederhana, padat, dan jelas.

Adapun kelemahanya adalah:
    subjek yang kurang terbiasa mengemukakan pendapat mungkin memberikan jawaban yanhg kabur, terlalu umum, dan berputar-putar.
     subjek akan cenderung menyamakan pendapatnya terhadap jawaban orang lain.
    mungkin ada jawaban yang dicemoohkan orang lain.
    memerlukan alat bantu seperti kertas lebar, papan tulis.
     kemungkinan waktu yang digunakan lebih lama dari yang ditetapkan.

2.    Teknik cawan iklan (fish-bowl technique).
Teknik cawan iklan adalah teknik yang digunakan dalam evaluasi dengan mengamati kegiatan diskusi yang sedang berlangsung. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok lingkaran dalam misalnya terdiri dari 7 orang dan kelompok lingakaran luar misalnya terdiri dari 13 orang.
Tempat duduk lingakaran dalam bertugas melakukan diskusi tentang berbagai topik topik, yang dipimpin oleh ketua kelompok. Kemudian tempat duduk lingkaran luar disusun melingkar diluar kelompok lingkaran dalam. Tugasnya adalah mengamati diskusi yang dilakukan subjek pada lingkaran dalam.  Apabila ada subjek dari kelompok lingkaran luar ingin bicara dilingkaran dalam maka bersangkutan harus bertukar tempat dengan seoarang yang berada dilingkaran dalam dengan cara memberi isyarat, misalnya menyentuh bahu temanya.
Teknik cawan iklan ini dapat menumbuhkan kegiatan evaluasi yang gembira, aktif, saling belajar, dan mengharuskan peserta terlibat dalam diskusi, mendengarkan dan mengamati.
Keunggulan penggunaan teknik cawan iklan adalah:
    kegiatan evaluasi dilakukan dalam suasana gembira dan penyampaian pendapat dikemukakan secara terbuka.
     pertanyaan terarah pada materi yang dievaluasi.
     pertanyaan telah disiapkan sebelumnya.
    pendapat atau jawaban akan lebih lengkap karena peserta pada kedua lingkaran dapat saling beganti peran.
     isi pembicaraan dicatat oleh pencatat dan dilaporkan oleh ketua kelompok diskusi.
    penggunaan teknik dapat dilengkapi dengan alat perekam.



Kelemahan teknik cawan iklan adalah:
    jawaban atau pendapat mungkin menyimpang dari materi yang dievaluasi
     peserta yang senang berbicara dapat mendominasi pembicaraan.
     membutuhkan ketrampilan dalam mengemukakan pendapat yang singkat dan tepat.
     waktu pelaksanaan mugkin bertambah dari waktu yang ditetapkan.
     pengamat yng kurang berani mengemukakan pendapat enggan untuk bertukar tempat dengan peserta diskusi.



















BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1.    Pelaksanaan tehnik non-test dalam kegiatan  evaluasi untuk penilaian hasil belajar peserta didik di awali dengan observasi atau pengamatan, lalu dilanjutkan dengan wawancara atau interview, kemudian angket dan yang terakhir yang harus dilakukan adalah pemerikasaan dokumen ( analisis documentary )

B.    Saran
Sangat kami sadari bahwa dalam pembuatan makalah ini, masih banyak kekurangan yang harus disempurnakan, oleh karena ini bagi para pembaca sekalian yang mungkin ingin mendapatkan informasi yang lebih spesifik mengenai teknih non-tes ini sebaiknya mencari lagi referensi yang lain yang lebih detail.





DAFTAR PUSTAKA

Sudijono, Anas.1995. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
http://mihwanuddin.wordpress.com/category/makalah/
http://mihwanuddin.wordpress.com/tehnik non tes dalam evaluasi hasil belajar.html











EKOLOGI LINGKUNGAN DAN VEGETASI







MAKALAH
EKOLOGI TUMBUHAN
“EKOLOGI LINGKUNGAN DAN VEGETASI”






                                                                  KELOMPOK I
                                                             REGULER PAGI B
                                                  1.    Nur Saifuddin            (0905015045)
                                                  2.    Listra Timau            (0905015046)
                                                  3.    Edwar Edi Hardadi        (0905015047)




                                                           PENDIDIKAN BIOLOGI
                                      FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
                                                   UNIVERSITAS MULAWARMAN
                                                                            2012











KATA PENGANTAR

Tiada kata yang layak diucapkan berkenaan dengan selesainya makalah ekologi tumbuhan ini dengan judul “Ekologi lingkungan dan vegetasi” selain ucapan Alhamdulillah, segala puji dan syukur kita panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini dimaksudkan untuk menjelaskan tentang pengertian ekologi, dan hubungannya dengan lingkungan, serta pencirian tipe vegetasinya dan spesialisasi dalam ekologi tumbuhan.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini. Hal itu disebabkan terbatasnya pengetahuan dan sumber yang penulis miliki. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak akan diterima dengan senang hati . Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca, terlebih lagi pada penyusun makalah ini.


Samarinda, 16 maret 2012


           Penulis,



DAFTAR ISI

HALAMAN COVER............................................................................. i
KATA PENGANTAR    iii
DAFTAR ISI    iv
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar belakang    1
B.Rumusan masalah    2
C.Tujuan    2
BAB II PEMBAHASAN
1.pengertian ekologi lingkuangan    3
2.pengertian vegetasi     5
3.pencirian tipe vegetasi    5
4. spesialisasi dalam ekologi tumbuhan    13
BAB III PENUTUP
           A.Kesimpulan    14
           B. Saran    14
DAFTAR PUSTAKA    15






BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Ekologi adalah ilmu yang sudah ada sejak beratus tahun lalu, pencetusnya adalah Ernest Haekel seorang zoologist berkebangsaan Jerman.
Pengkajian pada tingkat hirarkhi makluk hidup disamping memerlukan dukungan dan bantuan dari ilmu lain juga perkembangan tekologi serta alat, tidak terkecuali dengan ekologi tumbuhan yang sangat terkait dengan perkembangan ilmu morphologi tumbuhan dan klasifikasi tumbuhalam serta alat yang dipergunakan untuk kajian lebih dalam. Pengkajian pada masing masing hirarkhi makluk hidup membahas mengenai hubungan lingkungannya dengan makhluk hidup tersebut, baik secara biotik dan aboiotik pada tingkatan  hirarkhinya.
Perlu kesamaan bahasa dan metode kajian dalam ekologi untuk memudahkan komunikasi dan evaluasi untuk perbandingan semua kajian ekologi seluru penjuru dunia, perlu diciptakan satu bahsa teksis yang umum dipakai dalam disiplin ekologi tumbuhan.
Ada beberapa pertanyaan umum dalam ekologi tumbuhan, diantaranya misalanya bagaimana hubungan dan rangkaian antara tumbuhan satu sama lain dan juga dengan lingkungan mereka. Lingkungan hidup dari suatu organisme adalah semua faktor biotik dan abiotik yang potensial mempengaruhi organisme. Lingkungan tersebut juga merupakan habitat organisme yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang keduanya secara potensial mempengaruhi kehidupan makluk hidup tersebut. Sebagai contoh komponen biotik adalah: kompetisi, mutualisme, alelopaty serta beberapa interaksi antara makluk hidup. Kompenen abiotik yang dijelaskan di bab belakang meliputi komponen phisik dan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan dan distribusi tanaman. Ekologi Tumbuhan sesungguhnya tak mungkin dapat dipisahkan dari ekologi hewan maupun mikroba karena dalam habitat yang sama selalu dapat dijumpai keberadaan hewan dan mikroba
 Pada makalah ini akan dibahas secara mendalam mengenai ekologi lingkungan dan vegetasi.
B.    RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
a.    Apakah pengertian ekologi lingkungan ?
b.    Apakah pengertian vegetasi dan pembagian tipe vegetasi?
c.    Bagaimana Spesialisasi dalam ekologi tumbuhan ?

C.    TUJUAN
Adapun tujuan pembuahan makalah ini adalah agar mahasiswa dapat
a.    memahami pengerian ekologi lingkungan..
b.    memahami pengertian vegetasi dan pembagian tipe vegetasi.
c.    Memahami spesialisasi dalam ekologi tumbuhan.












BAB II
PEMBAHASAN


A.    PENGRETIAN EKOLOGI LINGKUNGAN
1.    Pengertian ekologi
Ekologi merupakan ilmu yang ada lebih dari 100 tahun lalu yang diciptakan oleh seorang zoologist dan seorang ekologiawan berkebangsaan jerman yang bernama Ernest Haekel. Kata ekologi berasal dari kata oikos yang artinya rumah, dan logos yang artinya ilmu. Sehingga secara harafiah dapat diartikan sebagai kajian mengenai mahluk hidup di dalam habitat atau dalam lingkungan mereka. Pengkajian pada tingkat hirarkhi makluk hidup disamping memerlukan dukungan dan bantuan dari ilmu lain juga perkembangan tekologi serta alat, tidak terkecuali dengan ekologi tumbuhan yang sangat terkait dengan perkembangan ilmu morphologi tumbuhan dan klasifikasi tumbuhalam serta alat yang dipergunakan untuk kajian lebih dalam.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Masing masing hirarkhi makluk hidup mempunyai lingkungan sehingga membentuk suatu biosistem yang khusus dimana masing masing hirarkhi berbeda secara ekologis.
Ekologi tumbuhan adalah kajian pada tingkatan hirarkhi organisme dan populasi, serta ekosistem yang ditempati, berkaitan dengan kondisi tersebut maka kajian dimulai dari pengenalan tanaman, analisis berdasarkan parameter ekologi yang digunakan, dimulai dari tingkatan yang paling luas yang menutup permukaan bumi yang disebut sebagai vegetasi. Jadi, ekologi tumbuhan, dapat didefinisikan sebagai ilmu yg mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup (Tumbuhan) dengan lingkungan atau i lmu yg mempelajari hub ungan timbal balik antara t umbuhan yang satu dengan yang lain serta lingkungannya .
Ekologi mempelajari bagaimana makhluk hidup dapat mempertahankan kehidupannya dengan mengadakan hubungan antar makhluk hidup dan dengan benda tak hidup di dalam tempat hidupnya atau lingkungannya.

2.    Lingkungan
Lingkungan hidup dari suatu organisme adalah semua faktor biotik dan abiotik yang potensial mempengaruhi organisme. Lingkungan tersebut juga merupakan habitat organisme yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang keduanya secara potensial mempengaruhi kehidupan makluk hidup tersebut. Sebagai contoh komponen biotik adalah: kompetisi, mutualisme, alelopaty serta beberapa interaksi antara makluk hidup. Kompenen abiotik yang dijelaskan di bab belakang meliputi komponen phisik dan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan dan distribusi tanaman.
Sedangkan lingkungan hidup tanaman dibagi dalam dua kelompok besar, pertama: lingkungan makro yaitu suatu lingkungan yang berpengaruh secara umum atau regional,  sedangkan yang ke dua adalah lingkungan mikro adalah lingkungan yang paling dekat dengan tanaman yang secara potensial berpengaruh terhadap organ tersebut, jadi merupakan suatu lingkungan dimana tumbuhan harus bertanggap.
Lingkungan makro mungkin sangat berbeda dengan lingkungan mikro sebagai contoh adalah lingkungan dalam suatu kanopi hutan sangat berbeda dengan lingkungan luar kanopi tersebut khususnya pada kelembaban, kecepatan angin, intensitas cahaya dan temperatur tentunya, lingkungan mikro di bawah suatu batuan di gurun tentu lebih dingin dibandingkan dengan diluar bebatuan tersebut.
Kecepatan angin pada lingkungan mikro pada  satu mm dari permukaan daun tentu mempunyai kecepatan angin yang berbeda dengan  bagian organ lain, sehingga dikatakan lingkungan mikro adalah lingkungan dimana tanaman mampu bertanggap.
Ekologi Tumbuhan sesungguhnya tak mungkin dapat dipisahkan dari ekologi hewan maupun mikroba karena dalam habitat yang sama selalu dapat dijumpai keberadaan hewan dan mikroba

B.    PENGERTIAN VEGETASI
Pengertian vegetasi adalah semua spesies tumbuhan yang terdapat dalam suatu wilayah yang luas, yang memperlihatkan pola distribusi menurut ruang dan waktu. Tumbuhan penutup permukaan bumi merupakan vegetasi yang dapat berbeda dalam ruang dan waktu untuk komponen spesies penyusunnya.
Jika suatu wilayah berukuran besar/luas, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol, sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Tiap tipe vegetasi dicirikan oleh bentuk pertumbuhan ( growth form atau life form ) tumbuhan dominan atau tumbuhan paling banyak, terbesar dan tumbuhan yang berkarakteristik. Contoh bentuk tumbuhan yang termasuk herba tahunan misalnya , pohon selalu hijau berdaun lebar, semak yang meranggas pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau rhizome, tumbuhan selalu hijau berdaun jarum, rumput menahun dan lain-lain.
1.    Bentuk pertumbuhan
Bentuk pertumbuhan dapat termasuk suatu hal berikut, tergantung pada konteksnya.
•    Ukuran: lama hidup, kerasnya kayu, atau takson, contoh adalah : herba anual, perenial, perenial berkayu, pohon ataupun pohon merambat.
•     Derajad kebebasan suatu takson: contoh adalah tumbuhan hijau yang berakar dalam tanah, parasit,saprophite atau epipit.
•    Morphologi takson: misalnya batang suculent (jaringan tebal dan lunak), daun suculent, bentuk roset, berduri, berambut.
•     Sifat daun takson: Midalnya besar, kecil, kaku, selalu hijau, meranggas pada waktu musim kering, bentuk daun jarum, atau bentuk daun lebar.
•    Phenologi, fenologi adalah waktu kejadian daur hidup dalam kaitannya dengan isyarat lingkungan seperti menggugurkan daun, bertunas, berbunga
•     Lokasi kuncup kala buruk (perenating) seperti yang ditetapkan oleh raunkier  pada tahun 1934.
2.    Fisiognomi
Fisiognomi adalah kenampakan luar suatu vegetasi, fisiognomi dapat dibangun dari  arsitek dan life form dari vergetasi penyusun. Arsitek vegetasi merupakan bentuk tajuk/ kanopi dari suatu tumbuhan, suatu vegetasi dapat terdiri dari empat atau lima lapisan  kanopi tergantung pada jenis vegetasi.
 
Sedangkan life form adalah bentuk pertumbuhan yang dapat dianalisis dengan berbagai cara. Arsitek dan life form keduanya merupakan dua hal yang menentukan fisiognomi dari vegetasi dan tiap vegetasi mempunyai karakteristik fisiognomi yang khusus. Berikut dijelaskan tentang life form :
a.    Life Form
Tipe life form dapat dilihat dengan banyak cara, satu diantaranya adalah dengan tipe life form dari Raunkier yag berdasarkan kuncup perenating dikelompokan sebagai berikut
•    Phanerophyte (P): kuncup perenating pada ketinggian paling tidak 25 cm diatas permukaan tanah. Ini berupa pohon, semak tinggi, liana, tumbuhan merambat berkayu, epifit dan batang sukulen yang tinggi.
•    Chamaeophyte (Ch): kuncup perenaying berkedudukan dekat dengan permukaan tanah (dibawah 25 cm). Herba, suffrutescent (suffruticose, perdu rendah, kecil, bagian pangkal berkayu dengan tunas berbatang basah), atau tumbuhan berkayu rendah, tumbuhan succulent rendah, tumbuhan cushion (bantalan).
•    Hemycriptophite (H): herba perenial dimana bagian aerial mati pada akhir pertumbuhan, meninggalkan kuncup pada atau tepatv dibawah permukaan tanah. Herba berdaun lebar musiman dan rumput-rumputan, tumbuahn roset.
•    Cryptophite (Cr): kuncup perenating terletak dibawah lapisan tanah atau terbenam dalam permukaan air. Tumbuhan darat dengan rimpang dalam, umbi atau tuber, tumbuahn perairan emergent, mengapung atau tenggelam dan berakar pada dasar.
•     Therophyte (Th): tumbuhan annual melampaui kala buruk dengan biji.
       Lebih lanjut lagi setelah mengamati lingkungan sekitar maka dapatkah menemukan berapa lapisan kanopi yang ada, dapatkah anda susun dalam bentuk diagram berdasarkan lapisan kanopi yang ada.

3.    Formasi
Berdasarkan ukuran keluasan vegetasi dapat dikelompokan dalam beberapa formasi, yang kesemuanya merupakan suatu tipe vegetasi yang sangat luas yang menutupi semua permukaan bumi.
Tabel klasifikasi formasih berdasarkan UNESCO th 1973.
Klas Formasi    No    Penyusun formasi        Spesifikasi
Hutan tertutup        Dominan tinggi 5 m, tajuk saling interlocking
    1    Hutan hujan basah        Dominan berdaun lebar, selalu hijau, ujung daun tetes, tidak tahan dingin dan juga kering
    2    Hutan musiman selalu hijau tropis dan sub tropis        Sejumlah mernggas kering yang terletak diatas dan dibawah
    3    Hutan semi meranggas tropis dan sub tropis        Kanopi atas pohon meranggas kering, pohon ander story tetap hijau, daun kakku, daun tanpa ujung tetes
    4    Hutan mangrove        Terletak di daerah intertidal di daerah tropis dan sub tropis, didominir oleh pohon berdaun lebar, kaku, selalu hijau, dengan pneumatophora, epifit serta vascular panjang
    5    Hutan berdaun lebar selkalu hijau temperate dan sub polar        Terdapat dalam ocenic ekstrem, klimat bebas beku, hemisphere selatan seperti hutan Podocarpus di New Zealand
    6    Hutan berdaun lebar musiman temoerate        Didominir pohon yang selalul hijau hemiscerophilus, bagian bawah kaya dengan tumbuhan herba, sedikit epipit dan liana.
    7    Hutan sclerophil berdaun lebar selalu hijau        Didominir oleh pohon yang selalu hijau sclerophil dengan sedikt under story tetatpi banyak liana.
    8    Hutan berdaun jarum sellau hijau tropis dan sub tropis        Didominir pohon selalu hijau yang berdaun jarum atau sisik, epipit vascular dan liana tidak ada.
    9    Hutan berdaun jarum sellau hijau temperate dan sub polar        Seperti diatas tapi dibagian belahan dunia sebelah utara
    10    Hutan meranggas        Kebanyakan pohon mengguggurkan daun bersama dalam kaitannya dengan musim pertumbuhan
    11    Hutan meranggas kering tropis dan sub tropis        Daun gugur selama musim kering
    12    Hutan meranggas dingin dengan pohon selalul hijau        Daun gugur selama misim beku, pohon meranggas dominan, tetapi ada pohon yang selalu hijau
    13    Hutan meranggas dingin dengan tanpa pohon selalul hijau        Pohon meranggas mutlak dominan, epipit vascular tidak ada
    14    Hutan xeromorphus ektrem        Tegakan padat dengan semak suculent dan xeromorphic, bagian bawah sering merupakan  hutan woodland
Wood
Land        Tinggi dominan  5 m, tajuk biasa tidak bersentuhan, penutupan kanopi 40%, terdapat lapisan herba
    1    Woodland selalu hijau        Dominan selalu hijau
    2    Woodland meranggas        Dominan berbagai pohon meranggas
    3    Woodland xeromorphic ekstrem        Serupa pohon xeromorphic tapi tidak lebat
Belukar/
Screub        Doinan semak atau pohon kerdil
    1    Belukar yang selalu hijau        Termasuk Charparal
    2    Belukar meranggas        Termakasuk belukar
    3    Belukar dengan xeromorphic ekstrem        Tegakan semak sangat terbuka dengan adaptasi xeromorphic, tumbuhan dengan duri
    4    Belukar kerdil dan sejenis        Dominan dengan tinggi kurang dari 0,5 m, termasuk tundra artic, alpin, bog heath
Herba
ceus        Dominan forb, penutupan penuh
    1    Graminoid tinggi        Dominan graminoid dengan tinggi 2m, bila berbunga penutupan forb kurang dari 50%
    2    Rumput tinggi dengan sinusia pohon 10 -40%        Woodland terbuka dengan penutupan graminoid lebih besar dari 50%
    3    Rumput tinggi dengan sinusia kuarang dari 10%        Savana kadang kadang dengan semak
    4    Rumput tinggi medium        Dominan graminoid dengan tinggi antara 0,5 -2 m, penutupan forb kurang dari 50%
    5    Rumput pendek        Dominan graminoid dengan tinggi kuarang dari 0,5 m, penutup forb kurang dari 50 %, termasukmeadow, beberpa tipe tundra
    6    Vegetasi forb        Penutup forb lebih besar dari pada 50%, penutup graminoid kuarang dari pada 50%

4.    Asosiasi
Asosiasi dapat dikatakan sebagai komunitas yang merupakan suatu istilah yang dapat digunakan pada sembarang tipe vegetasi, sembarang ukuran dan sembarang umur, komunitas dapat merupakan satu unit ekologi yang sangat luas namun juga dapat merupakan  satuan yang sangat sempit. Istilah  komunitas juga dapat digunakan untuk satuan yang paling kecil sekalipun seperti halnya menempelnya lumut yang beraneka ragam di pohon tertentu.
Ukuran, umur dan stratum tumbuhan bukan merupakan batasan suatu komunitas tumbuhan demikian juga dengan  perubahan komponen vegetasi yang terdapat didalamnya. Komunitas tetap berlaku untuk vegetasi yang mudah berubah ataupun yang lambat dalam perubahan penyusun vegetasinya.
      Seringkali vegetasi serupa mudah dan sering ditemukan pada lokasi yang mempunyai kondisi yang sama, sebagai contoh adalah hadirnya vegetasi yang berupa padang rumput yang mudah ditemui di manapun. Asosiasi lebih merupakan kumpulan dari contoh dalam sebuah vegetasi.  Suatukomunitas besar  dapat terdiri dari banyak asosiasi atau komunitas kecil  yang didalamnya terdapat banyak spesies tumbuhan penyusun vegetasi tersebut.
Asosiasi yang dapat merupakan bentuk komunitas dalam suatu formasi umumnya terdiri dari banyak asosiasi penyusun dimana salah satu dan lainnya dapat sangat berbeda dalam fisiognominya. Asosiasiasi dapat dikatakan juga sebagai komunitas, namun tidak semua komunitas menunjukan suatu asosiasi. Komunitas dapat dilabel sebagai asosiasi jika mempunyai ciri sebagai berikut:
a.  Mempunyai komposisi floristik yang seragam
b.  Fisiognomi yang seragam
c. Terdapat pada habitat yang relatif konsisten

5.    Karakteristik
Merupakan suatu ciri khas dari satu individu atau yang biasa kita sebut dengan tipikal karakteristik tidak hanya dimiliki atau menjadi satu ciri khas individu saja, namun termasuk juga dalam pengelompokan jenis tumbuhan.
Pengelompokan ini berdasarkan kesamaan formasi maupun fisiognomi. Namun walaupun memiliki kesamaan, tiap-tiap individu ini memiliki kualitas dan kuantitatif yang berbeda-beda dalam komposisi spesies. Vegetasi ini berperan penting dalam penentuan ekosistem.

6.    Populasi
Populasi  adalah suatu kelompok individu yang spesiesnya sama dan menempati dalam suatu habitat yang cukup kecil sehingga memungkinkan terjadinya interbreding diantara anggota semua kelompoknya.
Beberapa populasi tidak berinterbreding namun melakukan penyerbukan sendiri (self polination) atau bereproduksi secara seksual. Luas wilayah yang ditempati memungkinkan potensi terjadinya pertukaran gen melalui penyerbukan sendiri ataupun tetangga.





C.    SPESIALISASI DALAM EKOLOGI TUMBUHAN
a.    Synekologi
Synekologi mempunyai banyak sinonim kata diantaranya adalah: ekologi komunitas, fitososiologi,geobotani, ilmu vegetasi ataupun ekologi vegetasi. Syekologi mempunyai fase fese yaitu:
1.    Sosiologi tumbuhan
Sosiologi tumbuhan membicarakan mengenai diskripsi dan pemetaan tipe vegetasi dalam suatu komunitas
2.    Dinamika tumbuhanDinamika tumbuhan termasuk didalamnya adalah: transfer nutrien, transfer energi, hubungan antaginis atau simbiotik antara anggota, proses dan sebab terjadinya suksesi ataupun perubahan komunitas menurut waktu.
Kajian dinamika  komunitas dapat diabstrakan dalam level matematika dimana rumus yang dipergunakan dapat memvisualisasi  dan mensimulasikan sistem dinamika yang khusus diamati, kajian demikian dapat disebut sebagai ekologi sistem
3.    Deduksi evolusi untuk menentukan sifat alam dari suatu komunitas
Pernahkan terpikirkan apakah yang menetukan  jumlah spesies yang terdapat dalam suatu habitat. Apapula yang ,memyebabkan spesies tersebut eksis dalam habitatnya. Jawaban dalam suatu permasalahan ini seringkali tumpang tindih dengan aut ekologi.
b.    Aut ekologi
Kajian lain dari ekologi tumbuhan adalah mengenai adaptasi dan kelakuan spesies individu atau populasi dalam kaitannya dengan lingkungan hidup meraka. Sub sub dari aut ekologi diantaranya adalah: ekofisiologi, gene ekologi ekologi populasi.




BAB III
PENUTUP


A.    KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa :
1.    Ekologi merupakan kajian mengenai mahluk hidup di dalam habitat atau dalam lingkungan mereka. Pengkajian pada tingkat hirarkhi makluk hidup disamping memerlukan dukungan dan bantuan dari ilmu lain juga perkembangan tekologi serta alat, tidak terkecuali dengan ekologi tumbuhan yang sangat terkait dengan perkembangan ilmu morphologi tumbuhan dan klasifikasi tumbuhalam serta alat yang dipergunakan untuk kajian lebih dalam.
2.    Pengertian vegetasi adalah semua spesies tumbuhan yang terdapat dalam suatu wilayah yang luas, yang memperlihatkan pola distribusi menurut ruang dan waktu..
3.    Spesialisasi dalam ekologi tumbuhan terdiri atas sinekologi atau ekologi tumbuhan dan autekologi atau ekologi spesies individu.

B.    SARAN
Bagi para pembaca sekalian yang ingin memperoleh informasih lebih lengkapnya mengenai alga merah, di sarankan agar m,encari lagi referensi yang lain, karena tidak dapat kami pungkiri bahwa dalam pembuatan makalah ini masih benyak kekurangan yang harus diperbaiki





DAFTAR PUSTAKA


http://www.gudangmateri.com/2010/06/ekologi-lingkungan-hidup.html
Posted : Monday, June 21, 2010
:http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-sciences/2185049-definisi-sejarah-dan-ruang-lingkup/#ixzz1pBuyYYUj
Postetd by : Ani Marlina
http://id.wikipedia.org/wiki/Ekologi
    posted : by wikipedia
http://blog.uad.ac.id/novatriani/2011/12/04/ekologi-lingkungan-dan-vegetasi/
    postet by : novatriani at 4 december 2011
http://arrafz-bioslogos.blogspot.com/2011/05/ekologi-lingkungan-dan-vegetasi.html

SPESIES DALAM LINGKUNGAN KOMPLEKS





EKOLOGI TUMBUHAN
SPESIES DALAM LINGKUNGAN KOMPLEKS






DISUSUN OLEH :
NAMA     : EDWAR EDI HARDADI
NIM    : 0905015047
KELAS    : PEND. BIOLOGI/ REG. PAGI B


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITA MULAWARMAN
SAMARINDA
2012



Topik         : SPESIES DALAM LINGKUNGAN KOMPLEKS
Tenggal  : Senin, 26 Maret 2012
Materi     :

Spesies Sebagai Unit Ekologi
    Sifat-sifat individu spesies akan banyak berpengaruh pada sifat komunitas karena akhir sebagai unit terakhir penyusun vegetasi atau komunitas adalah tingkat spesies. Spesies taksonomi tersusun oleh individu dan populasi yang kemungkinan secara genetis bersifat heterogen. Sedangkan spesies ekologis secara genetis merupakan berbagai tumbuhan  lebih bersifat homogen yang bradaptasi terhadap berbagai kondisis lingkungan mikro khusus.
Faktor Lingkungan Dan Distribusi Tumbuhan
Permukaan bumi pada hakekatnya merupakan sistem jaringan faktor lingkungan yang berubah menurut ruang dan waktu. Kita dapat memperhatikan berbagai bentuk ektrim lingkungan dan bentuk gradien lingkungan berpengaruh kepada tumbuhan, dan menghubungkan dengan sifat toleransi fiusiologi spesies, dan dan juga dihubungkan dengan evolusi yang mencerminkan variasi lingkungan kopleks.
Distribusi tumbuhan
a.    Tumbuhan Kosmopolit
Tumbuhan kosmopolit yaitu tumbuhan yang areal penyebarannya luas (terdapat di mana-mana). Contohnya tumbuhan zingiberaceae yang hampir terdapat pada seluruh daerah yang beriklim tropis.
b.    Tumbuhan Endemik
Tumbuhan endemik yaitu tumbuhan yang area persebaranya sangat terbatas pada suatu kawasan yang unik(Cuma ada disatu daerah saja). Contoh tanaman angrek hitam yang hanya ada di pedalaman hutan borneo.
c.    Tumbuhan Diskontinyu
Tumbuhan diskontinyu adalah tumbuhan yang memiliki hubungan kekerabatan akan tetapi terpisah pada lokasi yang sangat jauh secara geografi. Contoh tanaman notofagus yang ada di afrika dan australia.
Hukum Minimum Liebig
Hukum ini dikembangkan oleh justus van liebig (1840) dimana hukum ini berbunyi : “untuk dapat bertahan dan hidup dalamkeadaan tertentu yang suatu organisme harus memiliki bahan-bahan yang penting, diperlukan untuk pertumbuhan dan berkembang biak.” Keperluan-keperluan dasar ini bervariasi antara jenis dan keadaan. Di bawah keadaan-keadaan mantap bahan yang penting yang diperlukan adalah memerlukan pembatasan.
Hukum Toleransi Shelford
“ Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadap kondisi faktor lingkungan”
Apabila organisme terdedah pada suatu kondisi faktor lingkungan yang mendekati    batas kisaran tolrensinya, maka organisme tersebut akan mengalami cekaman (stress). Fisiologis. Organisme berada dalam kondisi kritis. Contohnya, hewan yang didedahkan pada suhu ekstrim rendah akan menunjukkan kondisi kritis Hipotermia dan pada suhu ekstirm tinggi akan mengakibatkan gejala Hipertemia. Apabila kondisi lingkungan suhu yang demikian tidak segera berubah maka hewan akan mati.
Dalam menentukan batas-batas kisaran toleransi suatu hewan tidaklah mudah. Setiap organisme terdedah sekaligus pada sejumlah faktor lingkungan, oleh adanya suatu interaksi faktor maka suatu faktor lingkungan dapat mengubah efek faktor lingkungan lainnya. Misalnya suatu individu hewan akan merusak efek suhu tinggi yang lebih kerasapabila kelembaban udara yang relative rendah. Dengan demikian hewan akan lebih tahan terhadap suhu tinggi apabila udara kering disbanding dengan pada kondisi udara yang lembab.

Konsep Holocoenotic Lingkungan
Konsep Holocoenotic Lingkungan adalah suatu klimaks alami terhadap modifikasi lain pada hukum liebig. Telah diketahui bila suatu faktor  pembatasan dapat diatasi, maka akan timbul faktor pembatas lainnya. Bila suatu faktor lingkungan diubah maka akan merubah komponen-komponen lainya. Tidak mungkin mengisolasi satu faktor lingkungan terhadap distribusi dan kelimpahan suatu species, antar faktor terjadi saling ketergantungan dan sinergetik. Bukan berarti semua faktor setara, faktor-faktor tertentu sebagai trigger factors.
EKOTIPE TANAMAN
     Kata “Ekotipe” pertama kali diusulkan oleh seorang ahli ekolog bangsa Swedia bersama Turesson (1922). Beliau mengadakan percobaan terhadap beberapa spesies tanaman yang ditanam pada berbagai keadaan lingkungan yang berbeda. Ternyata masing-masing spesies yang sama akan memperlihatkan sifat-sifat morfologis yang berbeda sehubungan dengan adanya perbedaan  lingkungan (Wilsie, 1962). Berdasarkan hal-hal tersebut, respon tanaman terhadap faktor lingkungan dibagi menjadi yaitu:
Ekofen: dengan sinonim habitat form dan epharmone yaitu perubahan yang diberikan oleh tanaman sehubungan dengan perubahan habitat. Perubahan-perubahan yang jelas terlihat adalah jumlah kekeran batang, kevigoran bagian-bagian organ reproduktif. Walaupun demikian respon yang diberikan merupakan respon genetik homogen.
Ekotipe: dengan sinonim eccologie races atau physiologic races yaitu tipe-tipe spesies yang diperlihatkan terhadap suatu perubahan keadaan lingkungan secara keseluruhan. Terlihat adanya perubahan-perubahan morfologis dan fisiologis dengan respon genetik yang bervariasi sesuai dengan perubahan lingkungan tersebut.
   
 Kesimpulan :
Permukaan bumi pada hakekatnya merupakan sistem jaringan faktor lingkungan yang berubah menurut ruang dan waktu. Distribusi tumbuhan dibagi menjadi tiga yaitu, Tumbuhan Kosmopolit, Tumbuhan Endemik, Tumbuhan Diskontinyu.
Hukum Minimum Liebig : “untuk dapat bertahan dan hidup dalamkeadaan tertentu yang suatu organisme harus memiliki bahan-bahan yang penting, diperlukan untuk pertumbuhan dan berkembang biak.”
Hukum Toleransi Shelford :“ Setiap organisme mempunyai suatu minimum dan maksimum ekologis, yang merupakan batas bawah dan batas atas dari kisaran toleransi organisme itu terhadap kondisi faktor lingkungan”

Konsep Holocoenotic Lingkungan adalah suatu klimaks alami terhadap modifikasi lain pada hukum liebig.
EKOTIPE TANAMAN : Ternyata masing-masing spesies yang sama akan memperlihatkan sifat-sifat morfologis yang berbeda sehubungan dengan adanya perbedaan  lingkungan.

Sumber :
Lumowa, Sonja V.T. 2012. Ekologi Tumbuhan. Universitas Mulawarman; Samarinda
Sudarsono, Nasruddin Anshory. 2007. Kearifan Lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa. YOB ; Jakarta
http://ektum3bkel4.blogspot.com/2010/10/tumbuhan-kosmopolit.html
http://file.upi.edu/Direktori/FPMIPA/JUR._PEND.../hk,teori.pdf
http://fp.uns.ac.id/~hamasains/ekotan%205.htm



Keanekaragaman Tumbuhan Tingkat Tinggi

Topik         : Keanekaragaman Tumbuhan Tingkat Tinggi
Tenggal  : Senin, 19 maret 2012
Materi     :
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN TINGKAT TINGGI

        Keanekaragaman adalah suatu gejala yang dapat diamati, suatu fakta yang kehadirannya tidak dapat kita tolak dan bersifat universal. Bila dibatasi pada tumbuhan saja, dapat diamati bahwa ada keanekaragaman pada setiap sifat dan ciri tumbuhan, misal keanekaragaman bentuk hidup, ukuran, ssrtuktur, fungsi, perawakan, dan sifat/ciri lainya. (Lumowa, Sonja V.T. 2012)
        Keanekaragaman merupakan ungkapan terdapatnya beranekaragam bentuk,  penampilan, densitas dan sifat yang nampak pada berbagai tingkatan organisasi kehidupan seperti ekosistem, jenis, dan genetik. Nilai keanekaragaman ditentukan dengan menggunakan angka indeks. (http://meynyeng.wordpress.com)
        Menurut teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin dan Lamarck yaitu, jenis tumbuhan dan hewan yang ada mengalami perubahan secara perlahandari bentuk semula menjadi kebentuk lainya sehingga jenis mahluk hidup memperlihatkan kecenderungan untuk bervariasi atau beranekaragam. Kemungkinan-kemungkinan yang mendorong bertambahnya keanekaragaman tumbuhan ini dikarenakan adanya beberapa faktor.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEANEKARAGAMAN
A.    Faktor Abiotik
1. Iklim
Faktor iklim termasuk di dalamnya keadaan suhu, kelembaban udara dan angin sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan setiap mahluk di dunia. Faktor suhu udara berpengaruh terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan fisik tumbuhan. Sinar matahari sangat diperlukan bagi tumbuhan hijau untuk proses fotosintesa. Kelembaban udara berpengaruh pula terhadap pertumbuhan fisik tumbuhan. Sedangkan angin berguna untuk proses penyerbukan. iklim yang berbeda-beda pada suatu wilayah menyebabkan jenis tumbuhan maupun hewannya juga berbeda.
contohnya : Tanaman di daerah tropis, banyak jenisnya, subur dan selalu hijau sepanjang tahun karena bermodalkan curah hujan yang tinggi dan cukup sinar matahari. berbeda dengan tanaman yang berada di daerah tundra.
2. Keadaan tanah
Perbedaaan jenis tanah, seperti pasir, aluvial, dan kapur serta jumlah zat mineral yang terkandung dalam humus mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah. Di daerah tropis akan hidup berbagai jenis tumbuhan, sedangkan di daerah gurun atau bersalju hanya akan hidup tumbuhan tertentu. Tumbuhan kaktus salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan keadaan tanah di gurun pasir. Perbedaan jenis tanah menyebabkan perbedaan jenis dan keanekaragaman tumbuhan yang dapat hidup di suatu wilayah.
contohnya: di Nusa Tenggara jenis hutannya adalah Sabana karena tanahnya yang kurang subur.
3. Air
Air mempunyai peranan yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan karena dapat melarutkan dan membawa makanan yang diperlukan bagi tumbuhan dari dalam tanah. Adanya air tergantung dari curah hujan dan curah hujan sangat tergantung dari iklim di daerah yang bersangkutan. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah. Jenis flora di suatu wilayah sangat berpengaruh pada banyaknya curah hujan di wilayah tersebut. Flora di daerah yang kurang curah hujannya keanekaragaman tumbuhannya kurang dibandingkan dengan flora di daerah yang banyak curah hujannya.
contohnya: di daerah gurun, hanya sedikit tumbuhan yang dapat hidup, contohnya adalah pohon Kaktus dan tanaman semak berdaun keras. Di daerah tropis banyak hutan lebat, pohonnya tinggi-tingi dan daunnya selalu hijau.
4. Tinggi Rendah Permukaan Bumi
Permukaan bumi terdiri dari berbagai macam relief , seperti pegunungan, dataran rendah, perbukitan dan daerah pantai. Perbedaan tinggi-rendah permukaan bumi mengakibatkan variasi suhu udara. Variasi suhu udara mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan . Hutan yang terdapat di daerah pegunungan banyak dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Faktor ketinggian permukaan bumi umumnya dilihat dari ketinggiannya dari permukaan laut . Semakin tinggi suatu daerah semakin dingin suhu di daerah tersebut. Demikian juga sebaliknya bila lebih rendah berarti suhu udara di daerah tersebut lebih panas. Oleh sebab itu ketinggian permukaan bumi besar pengaruhnya terhadap jenis dan persebaran tumbuhan. Daerah yang suhu udaranya lembab, basah di daerah tropis, tanamannya lebih subur dari pada daerah yang suhunya panas dan kering.
B.    Faktor Biotik
Makhluk Hidup
Makhluk hidup seperti manusia dan hewan dan tumbuhancmemiliki pengaruh yang cukup besar dalam persebaran tumbuhan. Terutama manusia dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dapat melakukan persebaran tumbuhan dengan cepat dan mudah. Hutan kota merupakan jenis hutan yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biotik, terutama manusia. manusia juga mampu mempengaruhi kehidupan fauna di suatu tempat dengan melakukan perlindungan atau perburuan binatang. Hal ini menunjukan bahwa faktor manusia berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna di dunia ini.
contohnya: daerah hutan diubah menjadi daerah pertanian, perkebunan atau perumahan dengan melakukan penebangan, reboisasi,atau pemupukan. (http://zevanyageo.blogspot.com)





Nama-nama Tumbuhan Tingkat Tinggi
1    ANGGUR
2    ANGREK BULAN
3    ANGREK HITAM
4    APEL
5    BAWANG BOMBAI
6    BAWANG MERAH
7    BAWANG PUTIH
8    BAYAM
9    BUNCIS
10    CABAI
11    DURIAN
12    ENAU
13    GANDUM
14    JAGUNG
15    JAMBU AIR
16    JAMBU BIJI
17    JERUK
18    KACANG HIJAU
19    KACANG PANJANG
20    KACANG TANAH
21    KANGKUNG
22    KELAPA
23    LABU
24    LADA
25    LANGSAT
26    MANGGA
27    MAWAR
28    MELATI
29    MELON
30    PADI
31    PEPAYA
32    PINANG
33    PISANG
34    POHON KARET
35    POHON GAHARU
36    POHON JATI
37    POHON PINUS
38    POHON ULIN
39    PUTRI MALU
40    RAMBUTAN
41    SALAK
42    SAWI
43    SEMANGKA
44    SINGKONG
45    SIRIH
46    SIRSAK
47    TEH
48    TERONG
49    TOMAT
50    UBI JALAR
    Vitis sp.
Phalaenopsis amabilis
Coelogyne pandurata
Pyrus malus
Allium sp.
Allium cepa
Allium sativum
Amaranthus sp.
Phaseolus vulgaris
Capsicum annum
Durio zibethinus
Arenga pinnata
Triticum sp.
Zea mays
Syzygium aqueum
Psidium guajava
Citrus aurantifolia
Vigna radiata
Phaseolus vulgaris
Arachis hypogaea
Ipomoea aquatica
Cocos nucifera
Cucurbita
Piper nigrum
Lansium domesticum
Mangifera indica
Rosa sp.
Jasminus sambac
Cucumis melo
Oryza sativa
Carica papaya
Areca catechu
Musa paradisiaca
Hevea braziliensis
Aquilaria moluccensis
Tectona grandis
Pinus pinaster
Eusideroxylon zwageri
Mimosa pudica
Nephelium lappaceum
Salacca zalacca
Brassica sp.
Citrullus lanatus
Manihot esculenta
Piper betle
Annona muricata
Camellia sinensis
Solanum melongena
Solanum lycopersicum
Ipomoea batatas


   

Kesimpulan :
        Keanekaragaman adalah suatu gejala yang dapat diamati, suatu fakta yang kehadirannya tidak dapat kita tolak dan bersifat universal. Menurut teori evolusi yang dikemukakan oleh , jenis tumbuhan dan hewan yang ada mengalami perubahan secara perlahandari bentuk semula menjadi kebentuk lainya sehingga jenis mahluk hidup memperlihatkan kecenderungan untuk bervariasi atau beranekaragam dan faktor yang mempengaruhinya adalah faktor Abiotik dan Biotik.


Sumber :
Lumowa, Sonja V.T. 2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi. Universitas Mulawarman, Samarinda.
http://id.wikipedia.org/wiki/ ( diakses : 15 maret 2012 )
http://meynyeng.wordpress.com/keanekaragaman-tumbuhan.html
( diakses : 15 maret 2012 )

SUMBER BUKTI TAKSONOMI

BOTANI TINGKAT TINGGI
“SUMBER BUKTI TAKSONOMI    “



DISUSUN OLEH :
NAMA     : EDWAR EDI HARDADI
NIM    : 0905015047
KELAS    : PEND. BIOLOGI/ REG. PAGI B


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITA MULAWARMAN
SAMARINDA
2012





Topik         : SUMBER BUKTI TAKSONOMI
Tenggal  : Senin, 30 Maret 2012
Materi     :
SUMBER BUKTI TAKSONOMI

Sumber bukti taksonomi dapat berasal dari cabang-cabang biologi antara lain:
A.    Morfologi
Ciri-ciri morfologi berfaedah besar, bahkan pada pengamatan spesimen-spesimen herbarium, ciri-ciri ini menunjukkan tingkat keberhasilan yang tinggi untuk menyusun klasifikasi. Di lain pihak, ciri-ciri mikroskopis atau ciri endomorfik sering kali tidak terdapat pada beberapa golongan tertentu. Meskipun demikian, bukan berarti ciri-ciri lainnya tidak dapat digunakan sebagai dasar penyusunan klasifikasi.
Banyak ciri-ciri morfologi yang penting ternyata diabaikan, baik dari sifat negatifnya maupun sifat generatif. Ciri-ciri ini biasanya :
a.    Sulit dilihat (misal kelenjar madu, lodicula, tangkai benang sari)
b.    Sulit dibuat koleksi (misal pangkal daun dari suku palmae)
Ciri-ciri vegetatif yang mempunyai nilai taksonomi antara lain :
1.    Perawakan (habitus)
Perawakan ini berhubungan dengan tanda-tanda seperti ukuran, percabangan, persebaran, kerapatan, bentuk, ukuran serta tekstur daun, sistem perakaran, cara perkembangbiakan, serta kehidupan dan periodisitas.
2.    Organ-organ dalam tanah
Bagian tumbuhan yang berada dibawah tanah sering kali memberikan ciri-ciri berharga untuk pemisahan taksonomi, tetapi sering kali tidak mendapat perhatian.


3.    Daun
Bentuk daun seringkali memberikan variasi yang luas mulai dari pangkal daun sampai ujung daun, khususnya tunas dari berbagai pohonana yang berbeda jenisnya. Ptiksis yaitu cara penggulungan atau pelipatan organ-organ yang berdiri sendiri seperti daun atau petala pada waktu kuncup. Sifat-sifat ptiksis ini dapat sebagai bukti taksonomi pada takson tertentu seperti marga Primula, suku Rosaceae.
B.    Embriologi
Individu dalam marga atau suku mungkin dicirikan dengan tipe embrionya, dan tanda ini mungkin dapat dipakai untuk menentukan pembatasan taksonomi dan kekerabatan alami. Data-data embriologis yang digabungkan dengan ciri-ciri anatomi dan morfologis, dapat digunakan dalam membuat klasifikasi yang lebih baik.
C.    Anatomi
Data anatomi antara lain dapat dipergunakan untuk tujuan praktis, misalnya identifikasi, penggolongan atau mempelajari arah filogenetik dan tingkat kekerabatan. Peranan anatomi perbandingan batang dalam taksonomi antara lain:
•    Mempunyai nilai untuk pengenalan dan untuk menentukan kekerabatan dan arah evolusi spesialisasi
•    Sebagai ciri-ciri identifikasi, sifat-sifat anatomis mungkin dapat dipergunakan pada semua tingkat taksonomi, tetapi pada tingkat jenis dan di atas tingkat suku dalam Angiospermae cenderung kurang dapat dipercaya.
•    Di atas tingkat suku pada Angiospermae, heterogenitas struktur anatomis mengingatkan asal “polyphyletic”
•    Kriteria endomorfik tidak mempunyai nilai yang sama pada seluruh taksa
•    Faktor-faktor lingkungan dapat menyebabkan variasi pada sifat-sifat anatomis
•    Sistematik anatomi dalam pendekatan taksonomi melengkapi eksomorfologi
•    Persamaan ciri-ciri anatomi dapat timbul melalui evolusi searah dan evolusi menyebar
D.    Palinologi
Ciri-ciri utama butir polen yang mempunyai nilai taksonomi adalah jumlah dan posisi alur, jumlah, posisi dan kekompleksan apertura serta bentuk pahatan eksin. Tipe butir polen pada Angiospermae ada 2 tipe poko yaitu :
•    Monocolpate : butir polen yang dilengkapi suatu alur tunggal yang terdapat pada satu sisi butir polen yang jauh dari titik hubungan setrad.
•    Trocolpate : butir polen dengan tiga alur meridional. Rangkaian spesialisasi diawali dari monocolpate maupun tricolpate kemudian mencapai puncaknya pada acolpate (tanpa alur) dan pancolpate (beralur banyak).
E.    Sitologi
Data sitologis umumnya berasal dari nukleus, jumlah dan morfologi kromosom, dan kelakuan kromosom pada waktu meiosis. Sitotaksonomi adalah disiplin ilmu yang mempelajari variasi dan menerangkan ketidaksinambungan variasional dan kekerabatan dalam batas-batas sitologi.
F.    Fisiologi
Tumbuhan yang tergolong dalam satu jenis dianggap menunjukkan sifat fisiologi yang sama pula. Tumbuhan yang menunjukkan sifat morfologi yang sama mungkin sifat fisiologisnya berbeda.
G.    Fitokimia
Cari kimiawi dapat mempunyai nilai taksonomi yang tinggi jika dapat menunjukkan konstan, tidak menyebar pada seluruh takson secara sama, tidak mudah terpengaruh satu dengan yang lainnya. Ciri kimiawi dapat digolongkan menjadi 3 kelompok, yaitu :
•    Secara langsung dapat dilihat seperti butiran pati dan rafid
•    Berupa hasil tumbuhan seperti alkaloid, flavonoid dan terpenoid
•    Serologi dan elektroforesis protein
Substansi kimiawi yang secara langsung dapat dilihat :
•    Butiran-butiran pati
Butiran-butiran pati terdapat di dalam plastisida-plastisida. Butiran-butiran dapat tunggal atau majemuk, mereka bervariasi dalam bentuk dan sering menunjukkan lapisan.
•    Rafid
Merupakan tungkalan-tungkalan kristal kalsium yang terkandung dalam sel-sel besar dalam tumbuhan. Tukalan-tukalan kristal kalsium oksalat ini terbatas pada kelompok tumbuhan tertentu dan mempunyai nilai sebagai bukti hubungan kekerabatan.

KESIMPULAN

Sumber bukti taksonomi dapat berasal dari cabang-cabang biologi antara lain: Morfologi, Embriologi, Anatomi, Palinologi, Sitologi, Fisiologi, dan Fitokimia.

Sumber :

Tjitrosoepomo, Gembong. 1993. Taksonomi Umum Dasar-Dasar Taksonomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press ; Yogyakarta.
Lumowa,V.T,Sonja.2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi.Universitas Mulawarman:Samarinda.
http://taufik-ardiyanto.blogspot.com/2011/09/taksonomi-klasifikasi-dan-sistematik.html/2012/03/14

PENCIRIAN DAN KONSEP SIFAT

BOTANI TINGKAT TINGGI
“PENCIRIAN DAN KONSEP SIFAT”
   



DISUSUN OLEH :
NAMA     : EDWAR EDI HARDADI
NIM    : 0905015047
KELAS    : PEND. BIOLOGI/ REG. PAGI B


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITA MULAWARMAN
SAMARINDA
2012






Topik         : PENCIRIAN DAN KONSEP SIFAT
Tenggal  : Senin, 30 Maret 2012
Materi     :
PENCIRIAN
Ciri didefinisikan sebagai wujud yang merupakan pernyataan (ekspresi) sifat yang dapat diukur, dihitung atau diberi penilaian lain. Hampir semua kegiatan botani sistematik melibatkan sifat dan ciri tumbuhan beserta variasinya. Sifat dan ciri inilah yang memungkinkan orang menggambarkan konsep dan mengenal sesuatu takson. Sifat secara umum dapat diartikan sebagai petanda yang mengacu pada bentuk, susunan atau kelakuan tumbuhan yang dapat digunakan untuk membandingkan, mendeterminasi, menginterpretasi atau memisahkan suatu tumbuhan dari yang lainnya. Pernyataan atau keadaan variasi sifat disebut ciri suatu sifat. Contoh sifat: tinggi pohon, pinggir daun. Tinggi pohon 5m, pinggir daun rata, beringgit, merupakan ciri daripada sifat tinggi pohon dan pinggir daun itu.
SIFAT
Sifat secara umum didefinisikan sebagai petanda atau candra yang mengacu kepada bentuk, susunan, tingkah laku yang digunakan untuk membandingkan, mendeterminasi, menginterpretasi dan memisahkan antara organisme satu dengan organisme lainnya. Sifat sering dibedakan dengan ciri. Ciri lebih ditekankan kepada ekspresi dari suatu sifat. Sifat-sifat yang dijadikan dasar dalam mengadakan klasifikasi berbeda-beda tergantung orang yang mengadakan klasifikasi dan tujuan yang ingin dicapai dengan pengklasifikasian itu. Organisme yang sama dengan pemilihan sifat yang berbeda dapat mengakibatkan hasil versi klasifikasi yang berbeda pula.


Perbedaan Sifat Dan Ciri
No.     Sifat    Ciri
1.
2.     Bentuk daun
Duduk daun pada batang     Bulat, segitiga, memanjang, lanset dsb.
Tersebar, berhadapan, bersilang berhadapan, berkarang, roset.


Kegunaan Sifat
Sifat memiliki manfaat atau kegunaan, kegunaan sifat dalam taksonomi tumbuhan adalah:
1.    Sebagai bahan untuk menyusun deskripsi tumbuhan.
2.    Sebagai bahan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan tertentu.
3.    Sebagai bahan untuk pembatasan suatu taksa.
4. Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun klasifikasi tumbuhan
Macam-macam sifat dalam taksonomi
1.    Sifat umum
a.    Sifat analisis dan sifat sintesis
Sifat analisis adalah sifat yang digunakan untuk identifikasi, pencirian dan pembatasan takson. Sifat sintesis adalah sifat yang terdapat serba sama dan luas merata pada seluruh anggota suatu takson bertingkat lebih tinggi.
b.    Sifat kwalitatif dan sifat kwantitatif
Sifat kwalitatif  adalah sifat yang tidak diberikan dalam penilaian bentuk wujud secara numerik, misalnya alternasi daun, tipe plasenta, tekstur, warna, bau dan sebagainya. Sedangkan sifat kwantitatif meliputi penilaian wujud dengan ukuran, dihitung kerapatan atau penilaian numeric lainnya.


c.    Sifat mikro dan sifat makro
Sifat ini diacu berdasarkan perspektif skala agak benar sebenarnya dari keadaan dan kadang juga pada tipe metode mendapatkan data, misalnya dengan menggunakan TEM atau SEM, kromatografi, elektroforesis, dan sebagainya.
d.    Sifat biologik
Sifat biologik mempunyai sifat yang jelas atau peranan penting pada organisme.
e.    Sifat baik dan sifat tidak baik untuk taksonomi
Sifat yang baik untuk taksonomi memiliki persyaratan yaitu :
1.    Bukan sifat yang memiliki variabilitas genetika interinsik tinggi.
2.    Sifat yang tidak mudah mengalami perubahan oleh modifikasi lingkungan sederhana.
3.    Menunjukkan konsistensi, yaitu sesuai dengan korelasi dari sifat-sifat yang ada dalam suatu system alam klasifikasi yang disusun.
2.    Sifat filetik
Sifat filetik merupakan suatu sifat yang pertama-tama diduga menunjukkan informasi tentang filogeni dari golongan dan akhirnya berhubungan dengan perkembangan sifat.
3.    Sifat kladistik
Sifat kladistik yaitu merupakan sifat yang mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan asal evolusinya. Jadi merupakan suatu studi hipotesis akan evolusi suatu organisme.
4.    Sifat fenetik
Fenetik adalah suatu studi yang mengklasifikasikan berbagai macam organisme berdasarkan kesamaan atau kemiripan morfologi dan sifat lainnya yang bisa diobservasi tidak tergantung pada asal evolusi organisme bersangkutan.

Kesimpulan :
1.    Ciri didefinisikan sebagai wujud yang merupakan pernyataan (ekspresi) sifat yang dapat diukur, dihitung atau diberi penilaian lain.
2.    Sifat secara umum didefinisikan sebagai petanda atau candra yang mengacu kepada bentuk, susunan, tingkah laku yang digunakan untuk membandingkan, mendeterminasi, menginterpretasi dan memisahkan antara organisme satu dengan organisme lainnya.
3.    Dalam penerapan taksonomi sifat dapat dibedakan dengan ciri, karena ciri lebih ditekankan pada ekspresi dari suatu sifat yang dapat di ukur, dihitung atau diberi penilaian lainnya.
4.    Kegunaan sifat dalam taksonomi tumbuhan adalah:
a.    Sebagai bahan untuk menyusun deskripsi tumbuhan.
b.    Sebagai bahan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan tertentu.
c.    Sebagai bahan untuk pembatasan suatu taksa.
d.    Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun klasifikasi tumbuhan.
5.    Macam-macam sifat taksonomi antara lain:
a.    Sifat umum
1). Sifat analisis dan sifat sintesis
2). Sifat kwalitatif dan sifat kwantitatif
3). Sifat mikro dan sifat makro
4). Sifat biologik
b. Sifat filetik
c. Sifat kladistik
d. Sifat fenetik





Sumber :
Lumowa, Sonja V.T. 2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi. Universitas Mulawarman, Samarinda.
http://kir-31.blogspot.com/2011/02/penjelasan-tentang-daun-bantuk-daun.html
    Diakses: 29 Maret 2012
http://www.forumsains.com/biologi/filogenetik-fenetik-kladistik-kladogram-dendogram/
    Diakses: 29 Maret 2012

Senin, 19 Maret 2012

KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN TINGKAT TINGGI

Topik         : Keanekaragaman Tumbuhan Tingkat Tinggi
Tenggal  : Senin, 19 maret 2012
Materi     :
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN TINGKAT TINGGI

        Keanekaragaman adalah suatu gejala yang dapat diamati, suatu fakta yang kehadirannya tidak dapat kita tolak dan bersifat universal. Bila dibatasi pada tumbuhan saja, dapat diamati bahwa ada keanekaragaman pada setiap sifat dan ciri tumbuhan, misal keanekaragaman bentuk hidup, ukuran, ssrtuktur, fungsi, perawakan, dan sifat/ciri lainya. (Lumowa, Sonja V.T. 2012)
        Keanekaragaman merupakan ungkapan terdapatnya beranekaragam bentuk,  penampilan, densitas dan sifat yang nampak pada berbagai tingkatan organisasi kehidupan seperti ekosistem, jenis, dan genetik. Nilai keanekaragaman ditentukan dengan menggunakan angka indeks. (http://meynyeng.wordpress.com)
        Menurut teori evolusi yang dikemukakan oleh Charles Darwin dan Lamarck yaitu, jenis tumbuhan dan hewan yang ada mengalami perubahan secara perlahandari bentuk semula menjadi kebentuk lainya sehingga jenis mahluk hidup memperlihatkan kecenderungan untuk bervariasi atau beranekaragam. Kemungkinan-kemungkinan yang mendorong bertambahnya keanekaragaman tumbuhan ini dikarenakan adanya beberapa faktor.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEANEKARAGAMAN
A.    Faktor Abiotik
1. Iklim
Faktor iklim termasuk di dalamnya keadaan suhu, kelembaban udara dan angin sangat besar pengaruhnya terhadap kehidupan setiap mahluk di dunia. Faktor suhu udara berpengaruh terhadap berlangsungnya proses pertumbuhan fisik tumbuhan. Sinar matahari sangat diperlukan bagi tumbuhan hijau untuk proses fotosintesa. Kelembaban udara berpengaruh pula terhadap pertumbuhan fisik tumbuhan. Sedangkan angin berguna untuk proses penyerbukan. iklim yang berbeda-beda pada suatu wilayah menyebabkan jenis tumbuhan maupun hewannya juga berbeda.
contohnya : Tanaman di daerah tropis, banyak jenisnya, subur dan selalu hijau sepanjang tahun karena bermodalkan curah hujan yang tinggi dan cukup sinar matahari. berbeda dengan tanaman yang berada di daerah tundra.
2. Keadaan tanah
Perbedaaan jenis tanah, seperti pasir, aluvial, dan kapur serta jumlah zat mineral yang terkandung dalam humus mempengaruhi jenis tanaman yang tumbuh. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah. Di daerah tropis akan hidup berbagai jenis tumbuhan, sedangkan di daerah gurun atau bersalju hanya akan hidup tumbuhan tertentu. Tumbuhan kaktus salah satu tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan kondisi iklim dan keadaan tanah di gurun pasir. Perbedaan jenis tanah menyebabkan perbedaan jenis dan keanekaragaman tumbuhan yang dapat hidup di suatu wilayah.
contohnya: di Nusa Tenggara jenis hutannya adalah Sabana karena tanahnya yang kurang subur.
3. Air
Air mempunyai peranan yang penting bagi pertumbuhan tumbuhan karena dapat melarutkan dan membawa makanan yang diperlukan bagi tumbuhan dari dalam tanah. Adanya air tergantung dari curah hujan dan curah hujan sangat tergantung dari iklim di daerah yang bersangkutan. Keadaan tekstur tanah berpengaruh pada daya serap tanah terhadap air. Suhu tanah berpengaruh terhadap pertumbuhan akar serta kondisi air di dalam tanah. Jenis flora di suatu wilayah sangat berpengaruh pada banyaknya curah hujan di wilayah tersebut. Flora di daerah yang kurang curah hujannya keanekaragaman tumbuhannya kurang dibandingkan dengan flora di daerah yang banyak curah hujannya.
contohnya: di daerah gurun, hanya sedikit tumbuhan yang dapat hidup, contohnya adalah pohon Kaktus dan tanaman semak berdaun keras. Di daerah tropis banyak hutan lebat, pohonnya tinggi-tingi dan daunnya selalu hijau.
4. Tinggi Rendah Permukaan Bumi
Permukaan bumi terdiri dari berbagai macam relief , seperti pegunungan, dataran rendah, perbukitan dan daerah pantai. Perbedaan tinggi-rendah permukaan bumi mengakibatkan variasi suhu udara. Variasi suhu udara mempengaruhi keanekaragaman tumbuhan . Hutan yang terdapat di daerah pegunungan banyak dipengaruhi oleh ketinggian tempat. Faktor ketinggian permukaan bumi umumnya dilihat dari ketinggiannya dari permukaan laut . Semakin tinggi suatu daerah semakin dingin suhu di daerah tersebut. Demikian juga sebaliknya bila lebih rendah berarti suhu udara di daerah tersebut lebih panas. Oleh sebab itu ketinggian permukaan bumi besar pengaruhnya terhadap jenis dan persebaran tumbuhan. Daerah yang suhu udaranya lembab, basah di daerah tropis, tanamannya lebih subur dari pada daerah yang suhunya panas dan kering.
B.    Faktor Biotik
Makhluk Hidup
Makhluk hidup seperti manusia dan hewan dan tumbuhancmemiliki pengaruh yang cukup besar dalam persebaran tumbuhan. Terutama manusia dengan ilmu dan teknologi yang dimilikinya dapat melakukan persebaran tumbuhan dengan cepat dan mudah. Hutan kota merupakan jenis hutan yang lebih banyak dipengaruhi oleh faktor biotik, terutama manusia. manusia juga mampu mempengaruhi kehidupan fauna di suatu tempat dengan melakukan perlindungan atau perburuan binatang. Hal ini menunjukan bahwa faktor manusia berpengaruh terhadap kehidupan flora dan fauna di dunia ini.
contohnya: daerah hutan diubah menjadi daerah pertanian, perkebunan atau perumahan dengan melakukan penebangan, reboisasi,atau pemupukan. (http://zevanyageo.blogspot.com)





Nama-nama Tumbuhan Tingkat Tinggi
1    ANGGUR
2    ANGREK BULAN
3    ANGREK HITAM
4    APEL
5    BAWANG BOMBAI
6    BAWANG MERAH
7    BAWANG PUTIH
8    BAYAM
9    BUNCIS
10    CABAI
11    DURIAN
12    ENAU
13    GANDUM
14    JAGUNG
15    JAMBU AIR
16    JAMBU BIJI
17    JERUK
18    KACANG HIJAU
19    KACANG PANJANG
20    KACANG TANAH
21    KANGKUNG
22    KELAPA
23    LABU
24    LADA
25    LANGSAT
26    MANGGA
27    MAWAR
28    MELATI
29    MELON
30    PADI
31    PEPAYA
32    PINANG
33    PISANG
34    POHON KARET
35    POHON GAHARU
36    POHON JATI
37    POHON PINUS
38    POHON ULIN
39    PUTRI MALU
40    RAMBUTAN
41    SALAK
42    SAWI
43    SEMANGKA
44    SINGKONG
45    SIRIH
46    SIRSAK
47    TEH
48    TERONG
49    TOMAT
50    UBI JALAR
    Vitis sp.
Phalaenopsis amabilis
Coelogyne pandurata
Pyrus malus
Allium sp.
Allium cepa
Allium sativum
Amaranthus sp.
Phaseolus vulgaris
Capsicum annum
Durio zibethinus
Arenga pinnata
Triticum sp.
Zea mays
Syzygium aqueum
Psidium guajava
Citrus aurantifolia
Vigna radiata
Phaseolus vulgaris
Arachis hypogaea
Ipomoea aquatica
Cocos nucifera
Cucurbita
Piper nigrum
Lansium domesticum
Mangifera indica
Rosa sp.
Jasminus sambac
Cucumis melo
Oryza sativa
Carica papaya
Areca catechu
Musa paradisiaca
Hevea braziliensis
Aquilaria moluccensis
Tectona grandis
Pinus pinaster
Eusideroxylon zwageri
Mimosa pudica
Nephelium lappaceum
Salacca zalacca
Brassica sp.
Citrullus lanatus
Manihot esculenta
Piper betle
Annona muricata
Camellia sinensis
Solanum melongena
Solanum lycopersicum
Ipomoea batatas

   
   
   
   
   
   
   

Kesimpulan :
        Keanekaragaman adalah suatu gejala yang dapat diamati, suatu fakta yang kehadirannya tidak dapat kita tolak dan bersifat universal. Menurut teori evolusi yang dikemukakan oleh , jenis tumbuhan dan hewan yang ada mengalami perubahan secara perlahandari bentuk semula menjadi kebentuk lainya sehingga jenis mahluk hidup memperlihatkan kecenderungan untuk bervariasi atau beranekaragam dan faktor yang mempengaruhinya adalah faktor Abiotik dan Biotik.


Sumber :
Lumowa, Sonja V.T. 2012. Bahan Ajar Botani Tingkat Tinggi. Universitas Mulawarman, Samarinda.
http://id.wikipedia.org/wiki/ ( diakses : 15 maret 2012 )
http://meynyeng.wordpress.com/keanekaragaman-tumbuhan.html
( diakses : 15 maret 2012 )

Rabu, 14 Maret 2012

fakta-fakta tentang tubuh manusia

1. Setiap jam satu miliar sel di daam tubuh harus diganti.
2. Mata manusia bisa membedakan 500 warna abu-abu.
3. Tulang paha manusia lebih kuat dari beton.
4. Hati manusia mampu menciptakan tekanan yang cukup untuk menyemprotkan darah sejauh 30 kaki (9 m).
5. Mata kita selalu berukuran sama sejak lahir, tapi hidung dan telinga kita tidak pernah berhenti tumbuh.
6. Batuk rata-rata yang keluar dari mulut kita berkecepatan 60 mil (96,5 km) per jam.
7. Janggut adalah bulu yang tumbuhnya paling cepat pada manusia. Jika pria rata-rata tidak pernah memangkas janggutnya, makan hal ini akan membuatnya tumbuh hingga hampir 30 kaki dalam hidup.
8. Mata bayi tidak menghasilkan air mata sampai si bayi berumur sekitar enam atau delapan minggu.
9. Setiap orang memiliki bentuk lidah yang berbeda.
10. Bersin dapat melampaui kecepatan 100 m/jam.
11. Sel-sel mati dalam tubuh kita akhirnya dibawa ke ginjal untuk eksresi.
12. Senyum adalah ekspresi wajah yang paling sering digunakan. Senyum dapat dilakukan di mana saja dari 5 hingga 53 pasang otot wajah.
13. Satu dari 20 orang memiliki tulang rusuk lebih.
14. Orang-orang dengan kulit gelap tidak akan mengkerut secepat orang dengan kulit terang.
15. Darah manusia melalui perjalanan 60.000 (96.540 km) per hari pada perjalanan melalui tubuh.
16. 85% dari populasi dapat menekuk lidah mereka ke dalam sebuah tabung.
17. Dibutuhkan tujuh detik untuk makanan untuk pergi dari mulut ke lambung melalui kerongkongan.
18. Hati wanita berdetak lebih cepat daripada laki-laki.
19. Dalams atu hari, jantung kita berdenyut 100.000 kalo.
20. Rambut terbuat dari bahan yang sama seperti kuku

Test IQ